MAP

Selasa, 23 Maret 2010

How to Refill Xerox Phaser 6360 Toner Cartridges By Jeric O. Tero Platinum Quality Author

While most OEMs created devices that would prevent users from refilling empty toner cartridges, it seems that Xerox designed Phaser 6360 cartridges to be user-friendly and accessible for refills. Phaser 6360 cartridge units comes supplied with a built-in fill hole that allows direct access to the toner chamber without even having to melt a hole on the cartridge's casing. It is likely that the Xerox Phaser 6360 toner cartridge was engineered for future toner supply replenishment. In fact, the fill hole is located towards the gearless end of the cartridge which reduces the likelihoond of equipment complication once printer is in operation. Moreover, the smart chip's housing is positioned just outside the cartridge which makes replacement uncomplicated. The refill process is detailed below.

Replenishing Cartridge Toner Supply

1. Let the cartridge lie flat on the surface (workbench, office/kitchen table or counter, etc) and remove the gearless end cap. Use a small flathead screwdriver to disengage the series of four tabs that hold the end cap and carefully slide it out.
2. With the fill plug exposed, use the small flathead screwdriver again to carefully lift the plug out. Extra caution must be observed when removing the plug so as not to damage the plastic casing.
3. Once the chamber is opened, empty its compartment of residual toner. If possible, use suction to rid the chamber of contaminants.
4. When pouring replacement toner into the chamber; use the funnel cap to help ease its transfer. Reseal the fill hole and replace the end cap.

Replacing the Smart Chip

1. With the chip housing facing the user, use the small flathead screwdriver and press on the tabs (on both sides) to release the chip housing from the cartridge.
2. Unlock the chip housing cover by pressing on the tabs using an angled hook tool and pluck out the smart chip. Consequently replace this with the supplied reset chip that comes with the pack.
3. Reassemble the reset chip housing by putting in place the chip cover. Snap the reset housing back into the cartridge.

The toner refill process is about complete. Shake the cartridge slowly from left to right to free clumps of toner and load the cartridge back to the printer.

Observe the same procedures in the refill of color toner cartridges. Once all 4 cartridges have been loaded to the printer, the user can now begin a new round of printing. The refill process is really simple and easy. Surely Phaser 6360 users won't go through any trouble refilling cartridges with Xerox toner refill kits.

Jeric O. Tero supplies web content for Laser Tek Services, Inc. Looking for the highest quality printer consumables available at factory direct prices? Visit http://www.lasertekservices.com.

Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Jeric_O._Tero

Sabtu, 13 Februari 2010

Dokter-dokter Perempuan Penyembuh Problem Laki-laki

Ditulis oleh jpnn
Awalnya Kikuk Pegang "Burung"

dr. Anita Gunawan, SpAndBelum banyak dokter perempuan di Indonesia yang mendalami problem seksual. Itu karena sebagian besar pasien bidang satu itu adalah kaum pria. Nah, dokter-dokter wanita berikut berani mengambil tantangan itu. Bagaimana pengalaman mereka? Dokter perempuan yang memilih untuk menangani gangguan fungsi seksual memang masih sedikit. Bahkan dokter perempuan yang mengambil spesialisasi andrologi, yaitu spesialisasi medis yang berhubungan dengan kesehatan pria serta berkaitan dengan sisem reproduksi dan urine, bisa dihitung jari.

Dokter Anita Gunawan SpAnd (64), yang bekerja di RS Pusat Pertamina (RSPP) dan RS Pondok Indah (RSPI), Jakarta, adalah salah seorang di antara yang langka tersebut. Bahkan Anita adalah dokter perempuan pertama di Indonesia yang memutuskan mengintimi bidang andrologi. Spesialisasi yang umumnya diambil dokter laki-laki. Anita berhasil meraih gelar androlog pada 1989 dari Fakultas Kedokteran Unair. "Saya menjadi yang pertama waktu itu. Sekarang enggak terasa sudah 20 tahun," ungkapnya.

Perempuan asli Surabaya itu menceritakan, pada 1984, Unair membuka spesialisasi andrologi. Anita tertarik mengambil andrologi lantaran bidang tersebut boleh dibilang baru dan yang mendalami belum terlalu banyak. "Senior saya yang ngambil di luar negeri waktu itu cukup banyak. Tapi ya laki-laki semua," kata Anita. Ketika angkatan pertama pada 1985 dibuka, Anita memutuskan mendaftar.

Menurut dia, andrologi adalah bidang yang menarik lantaran terkait spesialisasi lain, misalnya penyakit dalam dan urologi (sistem kemih). Kenyataannya, ilmu itu jauh menarik daripada apa yang dia bayangkan. Dalam hati Anita berkata, pada era mendatang, persoalan gangguan seksual pada pria akan meningkat. Hal itu lantaran dipengaruhi gaya hidup yang buruk maupun faktor kasus penyakit degeneratif yang terus meningkat. Untuk itu, peran androlog akan semakin dibutuhkan. Pada 1991, dia memilih hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan kompetensinya.

Anita menuturkan, kali pertama dirinya menangani pasien laki-laki cukup kikuk. Itu karena, sebagai androlog, dia juga harus memeriksa dan memegang "burung" pria.

Sebelumnya, sebagai dokter umum, berbagai penyakit dia tangani. Namun sejak menyandang gelar androlog, Anita hanya bersentuhan dengan masalah yang berhubungan dengan gangguan seksual. "Sempat kikuk. Kemudian rasa itu saya tepis, sebab kalau saya kikuk, apalagi pasien saya," tuturnya.

Apalagi sekitar 95 persen pasiennya adalah laki-laki. Menyentuh mereka sudah merupakan bagian dari pekerjaannya sehari-hari. Termasuk menerapi pasien laki-laki. Anita pun harus memeriksa bagian "terdalam" laki-laki. "Lha terus gimana lagi. Kalau enggak diperiksa atau dipegang, apa bisa disembuhkan?" ujarnya.

Memang, kata Anita, tak semua pasien laki-laki mau langsung diperiksa. Beberapa di antara mereka malu-malu. Jika sudah demikian, Anita memberikan pengertian terhadap pasiennya. Sebelum memulai pengobatan, Anita melakukan konseling dan wawancara panjang dengan pasien. "Dari wawancara itu saya tahu apa penyebabnya. Kalau enggak bisa ereksi, penyebabnya apa? Harus diselesaikan. Kalau tidak diperiksa, enggak tahu ada kelainan atau tidak," jelas empat bersaudara itu. Dari pemeriksaan itu akan dilanjutkan apakah perlu ada tambahan pemeriksaan (laboratorium) dan terapi yang sesuai untuk pasien.

Kuncinya, kata dia, menumbuhkan kepercayaan pasien terhadap dirinya. "Kalau pasien sudah percaya dengan kita, semua persoalan akan mengalir. Mereka juga akan memercayakan pengobatan kepada saya," ungkap dokter berambut pendek itu. Untuk itu, sering Anita memosisikan diri sebagai teman.

Jika setelah melalui pendekatan dan pasien tetap tak mau diperiksa, Anita tidak memaksa. "Mau gimana lagi? Enggak mungkin dong dipaksakan," imbuhnya.

Kadang Anita berhadapan dengan pasien yang sulit sekali mengutarakan problem seksualnya. Tapi sekarang Anita bersyukur karena seiring keterbukaan informasi, mindset itu sudah mulai berubah. "Walaupun sampai sekarang masih banyak yang enggan mengutarakan kepada dokter perempuan, setidaknya sudah mulai terbuka jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu," ungkap perempuan yang hobi berkebun itu.

Selama 20 tahun "mengobok-obok" jeroan laki-laki, Anita seudah menangani berbagai kasus. Terutama infertilitas (ketidaksuburan) pada pria, disfungsi seksual (disfungsi ereksi dan ejakulasi dini), hipogonadisme (penis kecil pada anak-anak), aging (andropause), maupun KB pria. Tapi khusus kasus yang terakhir, animo pemakaian KB pada laki-laki di Indonesia masih rendah.

Anita mengatakan, pasiennya datang dari berbagai latar belakang status sosial dan beragam usia. Pasien disfungsi seksual rata-rata berusia 35-40 tahun. Namun ada juga kecenderungan pasien muda yang mengalami gangguan seksual. Biasanya, kata Anita, faktor pemicunya adalah masalah psikologis, misalnya stres, tekanan kehidupan, maupun rasa tidak percaya diri lantaran khawatir tidak bisa memuaskan pasangan. Faktor lain adalah masalah organik (penyakit degeneratif). Sementara untuk gangguan infertilitas, pasien yang datang mayoritas berusia subur 25-35.

Anita menyebutkan, ada juga remaja yang sudah mulai berani berkonsultasi. Mereka mayoritas mengeluh tak bisa ereksi atau mengalami ejakulasi. Bagi mereka yang belum menikah, untuk menghindari gaya hidup seks bebas, Anita menyarankan seks paling aman adalah dengan masturbasi. "Dengan syarat, menjaga kebersihan, daripada jajan. Bahaya," tegas ibu tiga anak itu.

Berbagai pengalaman lucu dan menarik juga dia alami. Ada pasien yang mengaku ketakutan datang ke androlog. Bahkan ada yang sampai berbulan-bulan baru memutuskan datang. Karena itu, Anita serius dalam merespons apa pun curhat pasien. "Jadi kalau sekarang mereka berani datang, berarti sudah siap diperiksa. Sebelum-sebelumnya, mau curhat saja muter ngomongnya. Ada yang sampai berkeringat," tuturnya.

Berbagai keluhan diutarakan pasien. "Dok, itu saya enggak bisa berdiri. Yang inilah, itulah," imbuhnya.

Ada juga pasien yang datang ditemani pasangannya (istri). Dalam beberapa kasus, sang istrilah yang justru membuka konseling untuk berbagi masalah gangguan seksual suaminya. Ada juga pasien yang datang tanpa sepengetahuan istrinya. "Ya karena tidak ingin pasangannya tahu, malu atau apalah," sebutnya.

Namun Anita menyarankan pasien yang datang lebih baik ditemani pasangannya. Tujuannya agar terapi lebih mudah dilakukan karena keduanya sama-sama tahu problem seksual yang dialami pasangannya.

Menurut Anita, suka-duka sebagai androlog juga kerap mewarnai hari-harinya. Dia merasa bahagia jika berhasil menyembuhkan pasien. Kadang pasiennya datang bersama buah hatinya yang sudah berusia beberapa bulan. "Mereka ingin kasih lihat jika sudah berhasil punya anak. Wah, saya paling senang jika pasien saya akhirnya punya keturunan," ujar istri Gunawan Tirta Raharja itu.

Namun bukan berarti tidak ada duka yang menyelimuti perjalanan kariernya. Ada juga beberapa pasien laki-laki yang "nakal" dan melayangkan godaan kepada Anita. "Yang pasti ada. Tapi bergantung kita menanggapi. Biasa aja, pura-pura tidak ngerti. Lain kali mereka akan merasa kok," ujarnya. Namun, kata Anita, mayoritas pasiennya bersikap sopan.

Bagi Anita, androlog perempuan juga merupakan tantangan. Betapa tidak, tak jarang orang memandang profesinya sebelah mata. Bahkan hal itu pernah dilakukan teman sejawatnya. Merespons sikap demikian, Anita kerap acuh tak acuh. "Saya ketawa saja, wong itu pekerjaan saya," ungkapnya.

Namun seiring perubahan zaman, sikap dan perilaku meremehkan jarang dia terima. "Yang penting kompetensinya," kata Anita.

Pada usia ke-64, boleh dibilang wajah Anita terlihat lebih muda. Wajahnya cerah dan model rambutnya dipotong pendek. Sering para kolega memuji dia lantaran selalu terlihat lebih muda. Sejatinya, kata Anita, resepnya adalah menikmati hidup. "Orang bilang karena saya sering pegang burung jadi awet muda," ujarnya, lantas tertawa.

Sebagai dokter yang menangani masalah seks, Anita berpesan terutama terhadap kaum laki-laki agar lebih memerhatikan gaya hidup. Apalagi remaja. Sebagian besar gangguan seksual akibat pola hidup tidak sehat yang bisa menyebabkan berbagai penyakit degeneratif, misalnya jantung, strok, dan diabetes melitus.

Karena itu, pola hidup sehat amat penting, misalnya olahraga, konsumsi makanan sehat, istirahat cukup, serta hindari merokok, bergadang, dan konsumsi alkohol. "Khusus remaja, yang palig penting menghindari seks bebas, sebab kehamilan di luar nikah sering terjadi," kata Anita
Pertama Praktik, Dilecehkan Pasien

Dyan Pramesti MKes SpAnd tidak pernah bermimpi menjadi seorang dokter spesialis di bidang andrologi. Apalagi kebanyakan dokter spesialis andrologi adalah laki-laki. Maklum andrologi merupakan bidang kedokteran yang mengurusi sistem reproduksi pria. "Saya dulu ingin jadi dokter bedah plastik, bukan androlog," terang alumnus Unair itu.

Nasib berkata lain. Setelah menjalani PTT (pegawai tidak tetap), dia diterima sebagai dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair. Dyan juga tertarik mengajar. Maka, dia bimbang, apakah mengambil spesialisasi kecantikan atau memilih menjadi dosen. Saat itu, pada 1997, ada aturan di Unair yang menyatakan bahwa dosen FK tidak bisa mengambil spesialisasi klinis seperti bedah plastik. Yang bisa hanya jurusan pre-klinis, seperti mikrobiologi, parasitologi, dan andrologi.

"Saya suka berhubungan dengan orang dan satu-satunya adalah jurusan andrologi. Lainnya lebih fokus penelitian di lab," terangnya. Selain karena alasan itu, alasan lainnya adalah karena kekagumannya akan seniornya, yakni ahli bayi tabung dr Aucky Hinting PhD. Dyan jadi ingin mendalami hal-hal yang terkait dengan reproduksi.

Ketika kuliah, dia satu-satunya wanita di kelas. Namun istri Bagus Setijanto itu sama sekali tidak merasa risih. Saat masih kuliah untuk mengambil spesialisasi, dia memang lebih mudah berteman dengan pria. Menurut dia, berteman dengan pria lebih asyik dan tidak merepotkan. "Menurut teman-teman, saya cuek. Jadi agak enggak ngreken, meski cewek sendiri. Tapi sekarang saya lebih fleksibel berteman dengan siapa saja," jelasnya.

Setelah lulus, Dyan membuka praktik sendiri. Dia praktik di sebelah apotek depan rumah. Di sanalah dia mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan. Dyan pernah dilecehkan pasiennya.

Kondisi tempat praktiknya memang terbilang cukup sepi. Saat itu salah seorang pasien mengeluh “burung”-nya tidak bisa “bangun” atau lazim disebut disfungsi ereksi (DE). Setelah diperiksa, si pasien tidak kunjung memakai celananya. Padahal, Dyan menyatakan berkali-kali bahwa pemeriksaan sudah selesai dan dia bisa memakai celananya kembali. "Tapi si pasien terus-terusan bilang, ‘Dok, saya tolong dibantu.’ Saya jawab, saya ini membantu, tapi dengan meresepkan obat. Tapi orangnya tetap saja begitu," jelasnya. "Akhirnya, saya memberikan resep dan membentaknya untuk segera keluar dari ruangan," tambahnya.

Untung, selama dua tahun membuka praktik, hanya sekali dia mengalami kejadian buruk tersebut. Selebihnya normal-normal saja. Memang kadang ada yang mengajaknya bercanda yang menjurus. Namun dia berusaha menyikapinya secara profesional.

Ada berbagai kisah pahit dan manis selama dia menjalani profesi sebagai androlog. Pernah suatu hari dia didatangi dua wanita. Satu tua, satu lagi agak muda. Ternyata yang muda itu mencari suaminya dan yang tua adalah mertuanya. Suami si ibu adalah pasien Dyan. "Si suami ternyata hobi selingkuh. Namun selama berkonsultasi dengan saya, dia tidak pernah cerita," jelasnya. Padahal, jika mau jujur bercerita, akan lebih mudah mengobati sakitnya. Untung saat itu Dyan tidak ikut dilabrak si istri. Si istri tersebut hanya menangis menceritakan perilaku suaminya. Sudah mengalami masalah seksual, masih selingkuh pula.

Dyan menyatakan, pasien yang berkonsultasi dengannya memang rata-rata cenderung curhat tentang permasalahannya. Termasuk masalah rumah tangganya, meski tidak semua. Dari sana, dia jadi belajar mengerti bagaimana sebenarnya laki-laki dan sifat-sifat mereka. Itu menjadi ilmu tersendiri untuknya, sebab dia jadi lebih tahu menghormati dan membuat lelaki percaya diri. Dampaknya tentu saja pada keluarganya.

"Hubungan saya dan suami jadi semakin baik," terang ibu beranak dua itu.

Meski hubungannya dengan sang suami semakin erat, bukan berati dia bisa cerita sembarangan tentang pekerjaannya kepada suami tercinta. Pernah suatu kali ada pasien yang cukup menarik kasusnya. Tidak sengaja dia cerita kepada suaminya. Hasilnya, sang suami cemburu. Padahal, Dyan sama sekali tidak melakukan kesalahan. Semua proses pemeriksaan sesuai prosedur. "Sekarang harus lebih hati-hati agar tidak menyinggung suami," ujarnya.

Kebanyakan Pasien Menangis, Selalu Sedia Tisu

"Lho, dokter belum menikah to?” ujar dokter Harrina Erliant Rahardjo SpU. Rina, panggilan akrab spesialis urologi RSCM tersebut, menirukan salah satu ucapan seorang ibu, pasiennya, yang berkonsultasi mengenai problem seksual yang dihadapi. Sebagai dokter konsultan di klinik Edelweis (klinik problem seksual khusus perempuan) RSCM, Rina memang kerap menjadi tempat curhat pasien-pasien perempuan yang bermasalah di ranjang. Nah, biasanya ucapan seperti itu terlontar karena si pasien ingin memastikan si dokter mengerti persoalan seksual yang mereka hadapi.

Anggapannya, yang mengerti ya hanya mereka yang sudah pernah menikah atau pernah berhubungan intim. Rina pede saja menjawab bahwa dirinya memang belum menikah. Persoalan sudah atau belum menikah memang tidak penting baginya. "Yang penting, saya tahu keilmuannya. Saya paham apa yang mereka alami dan bisa memberikan pengobatan jika dibutuhkan," kata perempuan kelahiran Jakarta, 33 tahun silam, tersebut.

Meski begitu, kenyataan bahwa si dokter belum menikah terkadang menerbitkan rasa ragu pasien. Rina bisa melihat pancaran keraguan itu dari wajah pasiennya. "Saya keukeuh saja mendengarkan keluhan mereka. Lama-lama mereka akan cerita banyak dengan sendirinya," lanjut putri pasangan Djoko Rahardjo dan Susy D Rahardjo tersebut. Cara itu ampuh. Jurus mendengarkan tersebut memupus rasa ragu. Persoalan mengenai status sang dokter pun akan terlupakan.

Menjadi dokter konsultan di klinik Edelweis dijalani Rina sejak sekitar tujuh tahun silam, saat mengambil program spesialis urologi di FK UI. Ketika itu, RSCM sebagai rumah sakit pendidikan untuk mahasiswa kedokteran FK UI membuka klinik Edelweis yang ditujukan untuk mengatasi persoalan seksual perempuan. Rina yang tertarik ikut mengajukan diri menjadi pengasuhnya.

Ranah seorang urolog sebenarnya mengatasi segala sesuatu yang berhubungan dengan persoalan kemih, baik laki-laki maupun perempuan. Plus mengatasi segala problem organ vital pria. Termasuk menangani persoalan seputar gangguan seksualnya, seperti ejakulasi dini hingga impotensi.

Rina tertarik pada bidang itu karena menyadari bahwa ternyata tak sedikit perempuan yang aktivitas seksualnya terganggu. Hanya, jika dibandingkan dengan laki-laki, mereka lebih tertutup. Ada semacam keengganan mengakui dan menganggapnya sebagai hal wajar yang tak harus disembuhkan. Ditambah lagi, berlaku semacam pemikiran "asal suami puas" sehingga meski mereka tak menikmati aktivitas seksual, itu tak menjadi soal. "Kalaupun ingin menyembuhkan, banyak yang tak tahu harus konsultasi ke mana," ungkap Rina.

Konsekuensi bertugas di klinik Edelweis adalah harus menyediakan ekstrawaktu dan ekstrasabar. Namanya juga melayani curhat, waktunya bisa berjam-jam. Harus siap-siap menyediakan tisu pula karena kebanyakan pasien pasti menangis saat mencurahkan persoalannya. "Tidak semua lho bisa bercerita dengan lancar. Beberapa pasien baru bisa bercerita dengan lancar setelah beberapa kali kedatangan," kata urolog perempuan satu-satunya di RSCM itu.

Maklum, menurut Rina, perempuan kebanyakan masih menganggap tabu bicara seks. Apalagi dengan orang lain yang tak dikenal. Nah, di sinilah kesabaran Rina diuji. Dia harus meyakinkan agar mereka mau menceritakan seluruh persoalannya. "Kadang, mereka mengaku hanya mengalami satu gangguan. Begitu ngobrol banyak, ternyata mereka mengalami banyak gangguan sekaligus," terang penghobi baca dan nonton tersebut. Ada empat gangguan seksual yang biasa dialami perempuan, yaitu gangguan libido, gangguan arousal (penggairahan), gangguan orgasme, serta nyeri saat berhubungan intim (dispareunia).

Sayang belum ada obat yang sungguh-sungguh bisa mengatasi gangguan seksual pada perempuan. Itu berbeda dengan gangguan pada laki-laki yang umumnya karena adanya problem pada alat vital. Pada perempuan, persoalannya lebih kompleks. Penanganannya lebih pada problem organik yang menyertai. Misalnya, jika ada keputihan, yang diobati keputihannya. Atau untuk pasien vaginismus, dilakukan terapi dengan sex toys.

Ketertarikan Rina menangani persoalan seks perempuan membuatnya terbang ke Jerman khusus belajar mengenai hal itu di Medizinische Hochschule Hannover pada 2007. Pada progam S-3 tersebut, Rina berada di bawah bimbingan langsung Stefan PhD, pakar persoalan seks perempuan. Akhir Desember lalu, Rina menapak lagi di tanah air, membawa predikat lulus memuaskan.(jpnn)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Download Ringtoon Gratis

Graphics

Converting At 1 In 14 Hops $1.37 Epc To Affiliates - Must See!!!

Tanggal & Waktu

Joke of the day!

ADS1